Tuesday, 25 December 2018

Polemik Pilkades Kateng


Di bagian selatan Pulau Lombok, tepatnya di Desa Kateng, ketegangan sedang terjadi sejak dua bulan terakhir. Perkaranya adalah hasil pemilihan kepala desa yang tidak memuaskan semua orang, terutama yang jagoannya kalah. Ke lima kandidat memiliki pendukung fanatiknya masing-masing.

Seperti biasa, menjelang pemilihan banyak desas-desus beredar. Tersebar kabar tentang calon A akan membuat kebijakan seperti ini, calon B seperti itu, dan seterusnya. Ibarat bola salju, desas-desus itu terus menggelinding dan membesar. Dampaknya antar warga saling curiga kemudian berujung fitnah.

Merumahkan Rumah Penyair 5



Sore itu cuaca cerah. Sekelompok orang sudah terlihat di pelataran warung Jejak Kopi. Beberapa di antara mereka adalah panitia yang sedang menyiapkan keperluan peluncuran dan diskusi antologi buku Rumah Penyair 5. Peluncuran buku ini disertai diskusi publik bertema Jejak Sua.

Jam sudah memeluk angka 15.40 ketika saya tiba. Tapi belum ada tanda-tanda acara akan segera dimulai. Padahal, di pamflet yang tersebar acara berlangsung pukul 15.00 WIB. Tapi saya tidak begitu heran sih, kondisi seperti sering saya jumpai.

Tidak lama setelah saya datang, peserta yang hadir semakin bertambah. Dari yang lihat, sebagian besar dari mereka adalah pelanggan setia Jejak Kopi ketika masih beroperasi. Barangkali mereka rindu sore-sore menyeruput kopi di warung ini.

Friday, 7 December 2018

Karena Tempat Tidur Bukan Monopoli Kos-Kosan

Cara nyaman tidur di warung kopi

Seorang kawan satu organisasi mengirim foto di grup alumni. Dalam hitungan detik foto itu menggiring memori saya menuju masa tiga tahun silam. Masa dimana tempat tidur bukan hanya monopoli kos-kosan. Di foto itu terdapat seorang mahasiswa gondrong berbaring di pojok warung kopi sambil mengenakan helm dan kacamata. Yup, manusia dalam foto itu adalah saya.

Di rentang tahun 2015-2016, warung kopi adalah kos kedua saya. Di tempat ini, segala aktifitas domestik saya terpenuhi. Mulai dari mandi, berak, makan, minum bahkan tidur. Maka tidaklah heran jika hampir semua karyawan dan pelanggan warung kopi mengenali saya. Para karyawan juga sudah hafal dengan kebiasaan saya. Jika jam menunjukkan warung harus tutup dan saya masih bertahan di situ, itu berarti saya akan bermalam. Lampu-lampu dipadamkan. Tinggal saya seorang diri terbaring beralaskan tas berisi buku-buku.

Monday, 3 December 2018

Disabilitas dan Jokowi

Di postingan sebelumnya saya berjanji akan membuat catatan lanjutan dari perayaan Hari Disabilitas Internasional 2018. So, inilah lanjutannya. 

Kegiatan yang berlangsung di parkiran Summarecon Mall Bekasi berjalan selama dua hari. Hari pertama diisi dengan pemukulan gong oleh Menteri Sosial, Agung Gumiwang Kartasasmita, sebagai bentuk simbolis pembukaan acara. Pasca pembukaan acara, Menteri beserta jajarannya mengelilingi stand yang tersedia. Kalau tidak salah total stand sebanyak 60. Stand-stand tersebut diisi oleh organisasi disabilitas, LSM, dan lembaga pemerintah. Komoditas yang dipamerkan tidak jauh dari disabilitas. Mulai dari makanan yang dibuat oleh penyandang disabilitas, aksesoris, busana, alat bantu, peta braile hingga Alquran braile.

Sunday, 2 December 2018

Selamat Jalan Bapaknya Adit

Kabar duka menyelimuti keluarga besar Jejak Imaji. Siang tadi Adit mengirim kabar lelayu di WA grup, "Kawan-kawan sekalian, mohon doa supaya bapak saya mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Alfatihah."

Pesan singkat tersebut membuat saya dan teman yang lain kaget. Saya tidak menyangka beliau berpulang secepat itu. Padahal minggu lalu saya bertemu dengannya di acara wisuda. Beliau tampak sehat tanpa kurang suatu apapun. Senyumnya merekah sekali menyaksikan anaknya meraih gelar sarjana. 

Rencana Tuhan memang tidak ada yang tahu.

Jogja-Bekasi


Dari sekian banyak moda transportasi, kereta api adalah yang paling saya senangi.

Malam ini kereta Senja Solo Utama mengangkut saya dari Stasiun Tugu Yogyakarta menuju Bekasi. Dilihat dari tiket, perjalanan ini akan meminum waktu delapan jam tiga puluh menit. Ini sama dengan satu hari kerja.

Kereta bergerak ke barat sesuai jadwal: 18.40 WIB. Jadwal keberangkatan sesuai dengan yang tertera di tiket. Tidak seperti pengalaman di tahun-tahun sebelumnya yang biasanya ngaret. Mungkin karena ini kereta kelas eksekutif kali ya. Jadi, tepat waktu adalah koentji. 

Thursday, 15 November 2018

Merayakan HAM di Wonosobo


Awal mula adalah iseng belaka.

Saya mendapati pamflet pendaftaran peserta fellowship Festival HAM 2018 dari rekan kerja. Dia menyodorkan pamflet digital itu dengan semangat. Dia mengajak saya mendaftar dan memenuhi syarat yang tertera. Saya merespon ajakan tersebut biasa saja, bukan karena saya tidak menyukai isu HAM, tapi mengikuti fellowship terlebih festival sudah saya lakukan sejak awal berstatus mahasiswa. Menjelang akhir kelulusan kuliah saya memang sengaja mengurangi kegiatan sejenis itu. Cukuplah waktu empat tahun sebelumnya saya gunakan menjadi aktivis workshop. Haha.

Akan tetapi, seusai makan siang saya melihat kembali pamflet Festival HAM. Jam makan siang kerap membuat saya gabut dan browsing tidak jelas. Daripada geser kursor tidak jelas, mending saya daftar dan mengisi syarat yang diminta, pikirku. Dalam waktu 30 menit, syarat menulis alasan mendaftar yang panjangnya kira-kira 2000 kata tersebut selesai. Saya kirim kemudian selesai. Saya tidak berharap banyak dari tulisan yang saya buat mendadak dan dalam waktu singkat itu. Saya bahkan lupa dengan apa yang saya tulis.

Dua minggu berselang, nomor tidak dikenali masuk ke hape saya. Suara di seberang mengabarkan bahwa saya lolos seleksi dan masuk sebagai peserta fellowship Festival HAM yang berlangsung pada 13-15 November di Wonosobo. Saya heran sambil tersenyum dengan kabar itu. Bingung apakah harus bahagia atau sedih. Tapi karena festival ini berisi banyak diskusi panel dan pleno tentang HAM saya tentu senang. Kapan lagi menghadiri acara keren yang segala akomodasinya ditanggung, batinku. Kabar baik itu saya anggap sebagai rejeki anak soleh. Hehe.

Tuesday, 24 April 2018

Wisuda Segan, Menikah pun Mau


Adit menikah. Kami para pengelola Jejak Kopi dilema. Bingung mau bersikap, antara harus bahagia karena Adit sudah menghabiskan jatah lajangnya atau sedih karena Jejak Kopi kehilangan juru masak. Menentukan sikap di momen seperti ini cukup berat, saya yakin Dilan saja tidak akan kuat. Tapi, sebagai karib yang baik, kami tentu bahagia dan mendukung langkah Adit menikah meski toga belum jadi hal milik. Kami sama sekali tidak mempermasalahkan status mahasiswa Adit. Lagian juga tidak ada hubungan sama sekali antara menikah dan wisuda. Kalau ada mahasiswa yang sudah siap menikah di semester tiga kamu mau apa? Saya juga heran siapa yang pertama kali buat aturan kalau nikah sebelum wisuda itu hal yang ganjil. Lho, kok saya jadi marah?

Saturday, 11 November 2017

Kumis


Saya adalah pria yang tumbuh dengan kumis bagian pinggirnya lebih panjang dari pada bagian tengah. Sekira lima tahun lalu, saat pertama kali menyadari hal ini, saya tidak merasa ganjil sedikitpun. Saya merasa fine-fine saja karena teman seperburjoan juga berkumis. 

Seiring bergulirnya waktu, kumis saya semakin panjang dan lebat. Tapi anehnya yang tumbuh subur hanyalah bagian pinggirnya saja, bagian tengahnya lambat sekali tumbuh, seperti tanaman yang kekurangan sinar matahari. Setelah akumulasi perasaan ganjil ini memuncak, saya putuskan untuk mencari tahu ke sang maha tahu, Google. Namun, saya tidak menemukan jawaban yang memuaskan libido.

Saking tidak betahnya berkawan dengan model kumis seperti ini, saya pernah melakukan eksperimen rekayasa genetik. Saya memotong kedua bagian pinggir kumis sampai gundul sehingga yang tersisa hanya bagian tengahnya saja. Harapannya supaya bagian pinggir bisa tumbuh bareng dan memiliki panjang yang sama dengan bagian tengah. Namun, upaya ini hanyalah kesia-siaan belaka. Meski kecolongan start, kumis pinggir tetap saja bisa menyalip, bahkan semakin jauh di depan. Asu. 

Thursday, 19 October 2017

Suzuki Shogun Adalah Sebenar-benarnya Pahlawan


Motor bagi saya adalah nyawa. Laju kehidupan saya hingga semester sembilan di kota pelajar ini paling besar ditopang oleh motor.  Meski begitu, saya kerap abai dengan kondisinya.

Motor Suzuki Shogun 110 cc yang saya miliki sejak semester satu adalah sebenar-benarnya pahlawan. Ia adalah my hero dalam berbagai hal. Mulai dari kendaraan untuk jalan bareng bribikan (meskipun sering ditolak karena kondisinya yang jauh dari kata layak), kuliah, liputan, warung kopi hingga demo.

Motor pribadi pertama saya ini memang jauh dari kata manusiawi, tapi saya akan selalu berdiri paling depan jika ada yang melecehkannya. Saya juga tidak pernah menjadikannya kendaraan untuk melakukan perbuatan tercela bin hina. Saya menamai kuda besi ini sebagai si Jago.

Jago saya beli di penghujung 2013 di sebuah toko jual-beli motor bekas di sekitar kampus. Waktu itu saya membelinya dengan mahar 4,6 juta. Sebagai motor keluaran 2004, si Jago waktu itu tidaklah terlalu mahal, meski juga tidak patut dikatakan murah. Dalam sekali lirikan, tanpa berpikir panjang ia langsung saya beli.

Sejak pertama kali mengendarainya saya langsung merasa nyaman dan secara perlahan jatuh cinta. Bahkan saking cintanya, saya tidak pernah mengganti satu pun suku cadangnya sejak dibeli (ini alasan aja sih, padahal gak punya duit). Saya membiarkannya menua secara alami. Rem depannya sudah lama ompong, lampu depan sudah lama rabun dan pita klaksonnya sudah lama membisu. Meski begitu, dia akan selalu menjadi pahlawan. 

Friday, 13 October 2017

Bullying Adalah Bom Waktu Bagi Generasi Kita


Sumber foto : Republika.co.id

Dewasa ini bullying adalah sesuatu yang mengkhawatirkan. Sudah banyak siswa sekolah bunuh diri karena tidak tahan dibully. Tentu masih basah dalam ingatan kita seorang siswi SMA berusia 16 tahun di Riau yang memilih mengakhiri hidupnya dengan cara menceburkan diri ke sungai lantaran tidak sanggup menghadapi bullying yang dilakukan teman sekolahnya. Siswi itu bernama Elva Lestari. Elva sebelumnya sudah meminta kepada orang tuanya untuk pindah sekolah, namun tidak direspon.

Melihat peristiwa Elva, saya jadi teringat masa-masa belasan tahun silam ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya beserta teman-teman yang lain pernah melakukan aksi bullying. Orang yang menjadi korban waktu itu teman sekelas bernama Ulfa (bukan nama sebenarnya). Ulfa menjadi bahan tertawaan karena bersekolah sambil berjualan pisang goreng dan es lilin.

Sampai detik ini saya tidak paham apa yang salah dengan seorang siswa yang sekolah sambil berjualan. Sejauh yang saya ingat, Ulfa memang siswa yang paling beda waktu itu. Seorang teman kemudian memanggilnya Nenek Piah. Di kantin sekolah kala itu ada seorang nenek bernama Piah yang juga berjualan pisang goreng.

Mendengar sebutan Nenek Piah, saya jadi ikut-ikutan memanggilnya demikian. Saya masih ingat dengan jelas raut muka Ulfa ketika dipanggil Nenek Piah. Pasca menyandang nama baru itu, Ulfa jadi lebih pendiam dan hampir menangis setiap hari.

Tuesday, 22 August 2017

Ayah

“Untuk Ayah Tercinta, Aku ingin bernyanyi, walau air mata di pipi.
Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa, walau hanya dalam mimpi.”

Penggalan lirik lagu di atas dilantunkan oleh seorang gadis kecil peserta lomba karaoke. Tanpa menunggu aba-aba, air mata saya langsung terjun. Seperti yang sudah- sudah, lagu ini memang selalu berhasil membuat saya menangis sesenggukan. Saya yang ketika itu berdiri di samping panggung terpaksa harus keluar dari kerumunan penonton. Menangis di sebuah perlombaan Hari Kemerdekaan tentu bukan ide yang bagus.

Sebelum air mata jatuh lebih deras, saya bergegas pulang menuju kamar mandi posko KKN. Apalagi kalau bukan untuk menangis. Mengeluarkan semua sedih dan pilu yang meskipun sudah terjadi belasan tahun silam, tetap tidak mampu membuatku benar-benar menerima kenyataan bahwa Ayah telah pergi.

Gadis kecil yang melantunkan lagu itu bernama Kinanti. Seorang penonton yang berdiri di samping saya memberitahu bahwa gadis itu adalah anak ketiga dari mantan kepala desa lokasi saya KKN yang meninggal beberapa bulan lalu. Saya bisa merasakan kesedihan Kinanti. Saya pernah berada di posisinya. Ditinggal oleh sosok Ayah ketika masih anak-anak yang selalu ingin digendong dan dimanja. Hal yang lebih membuat saya sedih adalah Ayah saya dengan Ayah Kinanti meninggal dalam status yang sama, sebagai mantan kepala desa.

Seusai menangis di kamar mandi, saya putuskan untuk tidak kembali ke lokasi lomba. Saya memilih untuk menuangkan perasaan saya malam ini ke dalam tulisan ini. Sejak berpulang pada 2006 silam, Ayah hanya selalu saya hadiahi Al-fatehah dan Surat Yasin. Namun, kali ini meskipun bukan di hari ulang tahunnya, saya ingin memberi kejutan kecil berupa tulisan. Semoga Ayah bisa membacanya dan singgah sebentar dalam mimpi.

Monday, 10 July 2017

RIP Alcatel


Kemarin saya terperangah. Gawai yang sudah empat tahun saya miliki tiba-tiba mati tanpa alasan yang jelas. Padahal terakhir saya cek batrai masih cukup untuk membuka Youtube selama dua jam. Saya coba hidupkan, no respon. Saya coba sambungkan dengan pengisi batrai, tidak ada tanggapan. Saya coba hubungkan dengan banyak casan, tidak bergeming juga. Oke, kalau sudah begini saya vonis gawai itu rusak.

Rusaknya gawai bermerak Alcatel (dibaca: Alkecel) itu jelas petaka bagi saya. Sebab satu-satunya alat yang saya andalkan untuk berkomunikasi jarak jauh hanyalah gawai itu. Padahal, di gawai itu ada banyak data-data pribadi yang belum sempat saya pindah ke laptop. Seiring dengan matinya gawai tersebut secara otomatis aktifitas browsing saya juga terhenti. Sedih.

Meski mati secara mendadak, saya meyakini bahwa gawai tersebut adalah tipe gawai yang tidak mau merepotkan pemiliknya. Sebelum nyawanya dicabut, ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ajal, seperti beberapa fitur rusak atau sesuatu yang membuat saya mengeluarkan uang untuk memperbaikinya. Tidak ada. Semua lancar seperti biasa. Hal seperti ini, meskipun tidak merepotkan saya, membuat saya sedih. Padahal, kemarin gawai itu masih saya genggam, namun sekarang sudah tidak bisa lagi. Semua terasa cepat sekali.

Monday, 3 July 2017

Mabuk Liburan


Libur lebaran kali ini benar-benar menjadi liburan terpadat bagi saya. Bagaimana tidak, dalam satu minggu ini saya sudah mengunjungi pantai sebanyak lima kali. Padahal liburan, apapun bentuk dan destinasinya, tidak begitu saya sukai, bahkan cenderung saya hindari. Namun, karena liburan kali ini saya nikmati di kampung halaman, saya tidak punya banyak alasan untuk menolak setiap ajakan.

Ajakan berlibur datang hampir setiap hari dengan sumber ajakan yang berbeda-beda. Mulai dari teman angkatan SD, remaja kampung, keponakan, hingga keluarga besar. Saya selalu tidak punya pilihan selain menerima semua ajakan tersebut. Jika pun sempat menolak, akan mudah dipatahkan dengan bujukan, “Ayolah, ini sekali setahun, lho. Tahun depan kita belum tentu ketemu lagi.” Jika sudah begini, saya langsung mengiyakan, siapa tahu ini perjalanan terakhir saya bersama mereka. Buset, saya tidak pernah merasakan liburan rasa maut seperti ini.

Meski cara menerima ajakan hanya dengan ikut serta bersama mereka, tapi hal ini tidak selalu berjalan mulus. Pernah suatu hari saya galau memutuskan hendak ke pantai dengan siapa, sebab pada hari itu ada dua ajakan. Satu dari keponakan yang masih kecil-kecil dan satunya dari teman seangkatan SD yang rencananya akan dijadikan sebagai ajang reuni. Acara reuni ini sebenarnya sudah jauh-jauh hari direncanakan, bahkan sebelum saya mudik. Semua persiapan sudah dilakukan, mulai dari mendata teman-teman yang ikut, mencari tempat menginap, iuran per-orang, dan sebagainya.

Namun, persiapan yang sudah matang itu diinterupsi satu jam sebelum kami berangkat. Ketika saya sedang siap-siap untuk pergi ke lokasi yang sudah jauh-jauh hari ditentukan itu, delapan kurcaci berserta orang tuanya masing-masing datang ke rumah, dengan tujuan mengajak saya ikut serta bersamanya. Para keponakan yang sudah tidak sabar ingin segera mendarat di pantai itu dengan sekuat tenaga membujuk saya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang memasang muka sedih. Orang tuanya, yang merupakan kakak-kakak saya, juga meminta saya ikut karena butuh tenaga tambahan untuk menemani dan mengawasi para kurcaci tersebut. Sebagai paman yang baik, perasaan saya tentu luluh dan tidak tega membiarkan mereka hanyut begitu saja ke tengah laut.

Keputusan ini tentu secara otomatis telah menggugurkan rencana reuni bersama teman sekelas di SD. Kabar ini pun segera saya kabari kepada mereka yang sedang menunggu. Ketika menyampaikan kabar yang tidak sedap ini, sebagian dari mereka memasang muka manyun dan sebagiannya lagi secara teranga-terangan memaksa saya tetap ikut. Namun, apa daya paksaan tersebut tidak bisa merubah keputusan. Sebab, taruhannya adalah membiarkan para keponakan menangis dan berada dalam ancaman ombak pantai.

Objek terbesar dari liburan saya adalah pantai. Hampir semua pantai di bagian selatan Lombok sudah saya kunjungi dalam rentang waktu satu minggu ini. Perjalanan ke pantai ini sebenarnya tidak susah-susah amat. Hanya memakan waktu 10 sampai 20 menit. Hal ini tentu berbeda dengan Yogyakarta, tempat saya kuliah. Di kota ini, jika ingin menikmati suasana pantai harus rela menempuh perjalanan selama tiga jam. Pantai yang dikunungi adalah pantai-pantai yang ada di Gunungkidul. Namun, jika ingin menikmati pantai dalam waktu singkat bisa mengunjungi Parangtritis atau Parangkusumo. Hanya perlu waktu satu jam, ganasnya ombak pantai selatan sudah bisa disaksikan.

Kini, saya sudah sepuluh hari berada di rumah, menyisakan empat hari lagi sebelum balik ke Jogja. Itu artinya, kemungkinan besar saya masih bisa pergi ke pantai beberapa hari kedepan, tergantung ada yang mengajak atau tidak. Namun, sebenarnya saya lebih berharap bisa menghabiskan banyak waktu di rumah. Menemani ibu di dapur dan membicarakan banyak hal. Sesuatu yang sudah jarang kami lakukan semenjak saya merantau.

Semoga banyaknya jumlah liburan ini tidak merubah saya menjadi pribadi yang gemar piknik dan melupakan kemaslahatan umat (lebay). Amin.



Wednesday, 24 May 2017

Ngeblog Lagi


Kali ini saya ingin sowan ke blog ini.

Silaturrahmi itu banyak macamnya dan tidak melulu ke kawan atau kerabat lama. Silaturahmi juga bisa dilakukan dengan cara menyapa blog ini dengan tulisan seperti ini, seperti yang sedang kamu baca ini. Entah ada angin apa, saya terbesit untuk mengutus deretan coretan pada blog yang sudah hampir dua bulan tidak ada kunjungi ini. Saya khawatir, semakin lama jika jarang didatangi blog ini jadi sarang perkumpulan para penyamun untuk mendapat mangsa atau jadi tempat mesum para kaum ngacengan. Astagfirullah. 

Ya, bagi saya blog ini tak ubahnya rumah sendiri. Rumah yang sudah hampir tiga tahun saya huni. Seperti kebanyakan rumah pada umumnya jika jarang disambangi dan dibersihkan pasti akan menjadi sarang hantu atau jadi wadah kegiatan yang tidak-tidak. Untuk mencegah hal itu terjadi, saya selaku pemilik rumah kali ini ingin mengecek kondisi perabotan dan properti di dalamnya. Alhamdulillah kondisinya masih layak pakai. 

Bertandang kembali ke blog ini mengajak saya memutar kembali memori tiga tahun silam. Memori yang mengingatkan saya mengenai maksud dan tujuan membuat blog ini. Saya masih ingat betul, blog ini saya buat di awal tahun 2014 sebagai wadah untuk menampung segala jenis coretan yang saya tulis. Hitung-hitung sebagai tempat mengembangkan minat menulis juga. Maklum waktu itu saya sedang giat-giatnya berproses di Pers Mahasiswa.

Monday, 20 March 2017

Kemana Kita Setelah Mati?



 Kehidupan setelah mati adalah misteri semua makhluk hidup, terutama manusia. Tidak ada yang bisa menjelaskan secara pasti bagaimana rupa kehidupan setelah kematian. Kebudayaan boleh saja berubah, teknologi boleh saja maju, pendidikan boleh saja pesat. Tapi, dari sekian generasi dan era, tidak ada satu pun alat yang bisa menerka seperti apa kehidupan setelah mati.

Untuk saat ini kita bisa saja bertolak pada agama. Hampir setiap agama punya penjelasan kehidupan pasca mati. Kita ambil contoh agama Islam. Islam secara komperehensif menyebutkan adanya akherat sebagai tambatan manusia setelah dikuburkan. Di akherat inilah nasib manusia ditentukan: surga atau neraka. Namun, kehidupan setelah mati yang Islam jabarkan belum bisa dibuktikan secara riil, sebab kita sedang berbicara dalam konteks filosofis. 

Sebagai umat beragama, kita patut meyakini seperti yang Islam telah gariskan. Namun, tidak bisa berhenti sampai di situ. Pencarian kebenaran mengenai hidup setelah mati harus terus diupayakan untuk mengetahuinya. Saat ini, sumber yang paling memungkinkan untuk mengetahui kehidupan pasca kematian adalah pengalaman orang-orang yang mati suri. Saya rasa sudah banyak orang yang mengalami mati suri: orang yang telah didiagnosa mati namun kembali hidup selang beberapa waktu. 

Wednesday, 15 February 2017

Mami: Pahlawan Perut Mahasiswa

Kemarin pagi kabar lelayu itu datang. Mami, ibu kantin di samping gedung ITC itu berpulang pada Kamis dini hari. Penyebabnya karena serangan jantung. Saya, beserta mahasiswa langganan yang lain, tidak bisa menyembunyikan rasa sedih dan kaget. Padahal dua hari lalu, Mami masih tampak sehat seperti biasa dan masih berjualan meski sedang libur semester.
Dua hari terakhir, warung Mami memang tidak beroperasi. Tidak seperti biasa memang. Setahu saya warungnya hanya tutup di tanggal merah. Mahasiswa yang sedari pagi biasanya sudah nongkrong di sana juga terlihat sepi. Ternyata dua hari terakhir Mami sedang berjuang melawan sakit. Sakit yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan kepada anak-anaknya (mahasiswa). Pembawaaanya yang ceria membuat saya berpikir Mami sedang baik-baik saja.
Selama tiga setengah tahun berada di ITC (lokasi beskem Poros) selama itu juga saya mengenal Mami. Mulanya saya tidak tahu nama aslinya, mahasiswa biasa memanggilanya Mami, saya ikut-ikutan panggil Mami. Baru kemarin, ketika melayat dan mengikuti proses pemakaman saya baru tahu nama asli Mami ternyata adalah Jumanah. Mahasiswa yang selama bertahun-tahun makan, minum dan ngutang di warungnya juga baru tahu.

Thursday, 26 January 2017

10 Tempat Liburan Alternatif Versi Saya yang Harus Kamu Kunjungi



Diambil dari Google


Kamu mungkin pernah mengalami percakapan di bawah ini dalam sebuah grup Sosmed:

“Guys mumpung lagi libur minggu depan kita jalan-jalan, yuk?”

“Yuk yuk, kemana?”

“Ke pantai gimana?”

“Gausah kejauhan!”

“Terus kemana, dong?”

“Ngecamp aja di gunung.”

“Aku gak bisa keluar malam.”

“Ke bukit bintang, aja.”

“Udah sering”

“Bosen.”

Hening. Tidak jadi jalan-jalan.

Merencanakan liburan dengan sekelompok orang memang gampang- gampang susah. Kalau kamu lagi beruntung, ajakanmu bisa dengan cepat direspon dan terlaksana. Tapi, kalau lagi apes ajakanmu bisa mental. Itu nyakit banget, lebih sakit dari ditolak gebetan yang udah dua bulan dibidik. Perih vroooh.

Monday, 23 January 2017

Lauren Bacall Mengajari Humphrey Bogart Bersiul

Diambil dari Google

Di usia 19 tahun, Lauren Bacall telah mewujudkan semua mimpi gadis berdarah merah Amerika: Humphrey Bogart berdiri hanya beberapa inci di depannya, menunggunya berbicara.
 
Mereka sedang memerankan adegan penting dalam drama perang berjudul “To Have and Have Not” yang disutradarai oleh Howard Hawks tahun 1944. Kepala Bacall gemetar, begitu juga dengan tangan dan rokok yang dipegangnya. Padahal gemetar tidak ada dalam skrip.

Bacall lalu memnundukkan kepalanya sampai dagunya hampir menyentuh dada. Hal itu dia lakukan untuk menghilangkan rasa gugup. 

Pada saat itulah “penampil” ini lahir – salah satu legenda artis bersuara seksi dan menjadi trendsetter bagi generasinya.

Bacall, ikon Hollywood yang mengajari Bogart bersiul dalam film itu telah membawanya ke puncak karir dan membuat “Bogie and Bacall” menjadi salah satu pasangan film paling terkenal di dunia. Bacall meninggal pada hari Selasa (12 Agustus 2016), di New York, dia hidup selama beberapa dekade. Dia tutup usia di umur 89 tahun.

Saturday, 21 January 2017

Marilyn Monroe Mati Karena Overdosis Obat, Benarkah?




Diambil dari Google
Marilyn Monroe, artis cantik yang gagal menemukan kebahagiaan sebagai bintang Hollywood, ditemukan tak bernyawa di kamarnya disebabkan overdosis mengkonsumsi obat.


The Blond, julukan Monroe (36), ditemukan terkapar tanpa busana di kasurnya dan terlihat menggenggam telepon ketika psikiater masuk dengan mendobrak pintu kamarnya pukul tiga dini hari.


Dia diduga telah meninggal sekitar enam atau delapan jam yang lalu.


Berdasar keterangan polisi, pada pukul lima sore Monroe menghubungi psikiater, Dr. Ralph Greenson, dan bilang ingin jalan-jalan karena mengeluh susah tidur.


Jasad Monroe kemudian dilarikan ke rumah sakit County Morgue untuk diautopsi. Setelah dibawa kesana, Coroner Theodore J. Curphey baru bisa memberikan kepastian penyebab kematian Monroe karena overdosis mengkonsumsi obat.