Kemarin saya terperangah. Gawai yang sudah empat tahun saya miliki
tiba-tiba mati tanpa alasan yang jelas. Padahal terakhir saya cek batrai masih
cukup untuk membuka Youtube selama dua jam. Saya coba hidupkan, no respon. Saya
coba sambungkan dengan pengisi batrai, tidak ada tanggapan. Saya coba hubungkan
dengan banyak casan, tidak bergeming juga. Oke, kalau sudah begini saya vonis gawai
itu rusak.
Rusaknya gawai bermerak Alcatel (dibaca: Alkecel) itu jelas petaka bagi
saya. Sebab satu-satunya alat yang saya andalkan untuk berkomunikasi jarak jauh
hanyalah gawai itu. Padahal, di gawai itu ada banyak data-data pribadi yang
belum sempat saya pindah ke laptop. Seiring dengan matinya gawai tersebut secara
otomatis aktifitas browsing saya juga terhenti. Sedih.
Meski mati secara mendadak, saya meyakini bahwa gawai tersebut adalah
tipe gawai yang tidak mau merepotkan pemiliknya. Sebelum nyawanya dicabut, ia sama
sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ajal, seperti beberapa fitur rusak atau sesuatu
yang membuat saya mengeluarkan uang untuk memperbaikinya. Tidak ada. Semua lancar
seperti biasa. Hal seperti ini, meskipun tidak merepotkan saya, membuat saya
sedih. Padahal, kemarin gawai itu masih saya genggam, namun sekarang sudah tidak
bisa lagi. Semua terasa cepat sekali.