Saya terlahir bukan dari keluarga yang gemar membaca. Meski ayah adalah seorang kepala desa dan kakek seorang Tuan Guru yang mengelola pondok pesantren, budaya membaca buku di keluarga saya tergolong minim. Memang, bacaan wajib seluruh keluarga waktu itu adalah kitab suci Al-Quran. Maka tidak heran, sebelum menginjak sekolah dasar saya sudah akrab dengan ayatullah.
Setiap petang ibu akan selalu memandikan saya agar segera pergi
mengaji. Jika sore sudah larut dan saya belum pulang, ibu akan segera mencari
ke lapangan, meminta saya berhenti bermain bola dan segera pulang. Tentu dengan
sapu lidi di tangannya sebagai ancaman.
Sampai lulus SD, tidak ada buku lain yang pernah saya baca
selain buku pelajaran terbitan Erlangga. Nama penerbit ini terus membekas di
kepala saya karena waktu SD ada teman bernama Arlan. Saya tidak paham apa hubungan
antara keduanya, tapi yang jelas ketika mengingat nama penerbit itu, secara
bersamaan sosok Arlan juga muncul di benak saya.
