Monday, 16 January 2017

Kisah Nakal di Sekolah



Saya terlahir bukan dari keluarga yang gemar membaca. Meski ayah adalah seorang kepala desa dan kakek seorang Tuan Guru yang mengelola pondok pesantren, budaya membaca buku  di keluarga saya tergolong minim. Memang, bacaan wajib seluruh keluarga waktu itu adalah kitab suci Al-Quran. Maka tidak heran, sebelum menginjak sekolah dasar saya sudah akrab dengan ayatullah. 

Setiap petang ibu akan selalu memandikan saya agar segera pergi mengaji. Jika sore sudah larut dan saya belum pulang, ibu akan segera mencari ke lapangan, meminta saya berhenti bermain bola dan segera pulang. Tentu dengan sapu lidi di tangannya sebagai ancaman. 

Sampai lulus SD, tidak ada buku lain yang pernah saya baca selain buku pelajaran terbitan Erlangga. Nama penerbit ini terus membekas di kepala saya karena waktu SD ada teman bernama Arlan. Saya tidak paham apa hubungan antara keduanya, tapi yang jelas ketika mengingat nama penerbit itu, secara bersamaan sosok Arlan juga muncul di benak saya. 

Wednesday, 11 January 2017

Kisah Unik di Balik Nama


“What’s your name?”
 
“Bintang.”

“Bintang? Like a beer.”

“Hahaha,” kami tertawa.

Lissa, wisatawan asal Jerman tertawa mendengar nama saya. Pikirannya langsung tertuju pada pada jenis minuman beralkohol ketika saya memperkenalkan diri. 

Saya menemui Lissa di Malioboro. Sore itu, saya sedang mencari wisatawan asing untuk merampungkan tugas conversation. Dosen saya mensyaratkan tugas ini sebagai tugas akhir. Sudah dua kali saya ke Malioboro untuk mencari bule, namun baru di kali kedua saya berhasil mendapatkan bule yang bersedia diajak ngobrol sembari direkam. Sebelumnya, para bule menolak karena alasan privasi. 

Thursday, 29 December 2016

Latah Atau Reaksioner?


Saya adalah orang yang latah (atau reaksioner?). Saya selalu tertarik mencoba sesuatu yang baru saja dilihat. Contohnya adalah gambar di atas. Gambar itu saya buat setelah melihat tutorial menggambar untuk anak-anak di Facebook. Meski hasilnya tidak sebagus aslinya, tapi saya sedikit bangga dengan gambar itu. Minimal saya punya karya seni (meski tergolong buruk).

Bukan kali ini saja saya meniru, sebelumnya saya pernah ikut-ikutan bottle challenge (Itu lho, yang muterin botol sampe berdiri). Hasilnya, sekarang saya mahir banget dalam bidang itu. Siapa tahu dalam beberapa waktu kedepan saya jadi pelukis beneran, ya gak?  Tapi, ada satu ketertarikan yang sampai detik ini belum bisa saya tiru, yakni menjadi Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Penyebabnya sepele, sih, karena saya bukan pribadi yang taat. Itu saja.

Sebenarnya dalam tutorial itu banyak jenis gambar yang tersedia, tapi tidak semaunya saya tiru. Saya hanya memilih yang gampang-gampang saja. Sebagai newbie dalam dunia lukis-melukis, hasilnya lumayan lah, lumayan hancur. Hahaha

Jika disuruh menilai, angka berapa yang akan kamu kasih untuk gambar di atas?

Sunday, 18 December 2016

Indonesia dalam Laporan Akhir Tahun Versi Koran

Saya terkesiap setelah membaca laporan akhir tahun Bre Redana yang dimuat Harian Kompas edisi 17 Desember. Bre mengulas setiap peristiwa menyedihkan yang terjadi  sepanjang tahun 2016. Berbagai peristiwa masuk dalam sorotannya, ada politik, agama, buku, film, dan musik. Dalam tulisan berjudul Kita dan Pasca “Kasunyatan” Bre juga menyinggung soal perbedaan cara menerima informasi, menurutnya masyarakat di era sekarang ini hidup di alam delusi. Ini disebabkan karena setiap informasi yang dikonsumsi kita tidak lagi hadir menerimanya dengan mata, telinga dan alat perasa lainnya. Sebaliknya, menurut Bre, otak kita sudah bisa dibanjiri informasi tanpa melihat, mendengar dan merasakan langsung setiap peristiwa yang terjadi. 
 
Terlepas dari apa yang disampaikan Bre Redana, tulisan itu telah memutar kembali memori kita pada apa yang terjadi setahun lalu. Di koran yang sama Bre menuangkan pesimismenya terhadap media cetak yang, menurutnya, sudah menemukan senjakalanya. Mungkin masih basah dalam ingatan bagaimana Bre mencoba membandingkan laku kerja wartawan cetak dan media online waktu itu. Wartawan media cetak (Bre menyebut wartawan konvensional) dalam pandangan Bre masih lebih baik ketimbang wartawan media online, sebab pewarta konvensional masih melakukan cara lama dalam wawancara seperti menulis tangan dan menranskripnya. Hal seperti itu tidak lagi dilakukan oleh wartawan media online. 

Tuesday, 29 November 2016

Selamat Menikah, Mas Yudha

Selain rejeki dan kematian, misteri lain yang dirahasiakan ilahi adalah jodoh. Saya selalu was-was ketika berbicara soal jodoh. Saya bertanya-tanya seperti apa gerangan jodoh saya kelak, cantik- kah, baik hati-kah, berambut sebahu-kah, bule-kah? Entahlah, itu rahasia Tuhan yang paripurna.
  
Tapi kawan saya satu ini (saya panggil kawan aja biar terkesan egaliter), sudah tidak perlu lagi menerka-nerka seperti apa jodohnya itu. Di usianya yang sebentar lagi menginjak kepala tiga (ciee tua), kawan saya ini sudah berhasil memecahkan salah satu misteri ilahi.

Saya mengenal Prayudha Magriby lumayan lama, sekitar tiga tahun. Saya menganggapnya sebagai guru, kakak, teman sekaligus musuh. Sebagai seorang dosen linguistik yang memiliki pengetahuan jurnalistik yang memadai, berdiskusi untuk menyedot ilmu darinya amatlah menggembirakan. Akan tetapi, intensitas diskusi ini amat jarang terjadi. Ia lebih suka mengarahkan pembicaraan ke soal asmara. Urusan asmara hampir tidak pernah luput dibahas setiap kali ngopi.

Monday, 28 November 2016

Pers Mahasiswa di Ujung Tanduk

            Tidak mudah menjelaskan kondisi pers mahasiswa (persma) dewasa ini, selain karena perbedaan dinamika, tiap pers mahasiswa juga berbeda dalam memaknai kepersmaan. Perbedaan pandangan inilah kemudian yang melatarbelakangi beragam dinamika yang muncul. Ada pers mahasiswa yang menjadi bulan-bulanan petinggi kampus karena berita yang disajikan,  ada juga persma yang berkawan akrab dengan pejabat kampus karena pemberitaanya mendongkrak popularitas kampus. Namun, apapun bentuknya saat ini, pers mahasiswa dulunya lahir dari satu rahim yang sama, yakni rahim perlawanan terhadap ketidakaadilan dan penindasan.

Berbarengan dengan berdirinya organisasi pemuda Budi Utomo 1908, lahir sebuah pers mahasiswa bernama Hindia Poetra. Organisasi pers yang digawangi oleh para pemuda pribumi ini berdiri karena ketimpangan kebijakan yang dilakukan Volksraad (parlemen yang dibentuk pemerintahan Hindia Belanda). Kritik yang sering dilayangkan Hindia Poetra kala itu adalah hukum yang berjalan tajam kebawah tapi tumpul keatas. Sejurus kemudian, karena merasa membutuhkan sumbu perlawanan lebih banyak lahirlah pers mahasiswa Jong Java (1914), Oesaha Pemoeda (1932) dan Soeara Indonesia Moeda (1938) yang kemudian berperan dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. 

Pers mahasiswa, jika menggunakan definisi yang longgar, saat ini telah berusia satu abad lebih. Di umurnya yang panjang ini persma telah memberikan corak tersendiri dalam perkembangan pers di Indonesia. Pers mahasiswa hadir menyajikan alternatif berita ketika media-media umum dibungkam di  masa rezim Soeharto. Selama 32 tahun Orde Baru berkuasa, selama itu pula pers ‘dipasung’.

Osiris: Es Krim untuk Sesama


Saya bukanlah penikmat es krim yang fanatik. Intensitas makan es krim saya bisa dihitung jari. Jika disuruh membuat daftar makanan favorit, es krim mungkin akan bercokol di urutan ke sembilan setelah tempe mendoan. Namun, posisi itu segera  berubah setelah saya mencicipi es krim Osiris, kekuatan rasa yang ditawarkan membuat es krim naik tingkat menempati urutan keempat, satu tingkat di atas mie ayam. Tentu, nasi telor tidak ada yang bisa menggesernya di posisi puncak. 

Siang itu, saya berencana pergi liputan ke sebuah desa di Bantul, tepatnya di dusun Paker, kelurahan Sidomulyo, kecamatan Bambanglipuro. Berhubung lokasinya lumayan jauh, saya berusaha mengontak kawan yang sekiranya asyik diajak ngobrol di jalan. Apa lacur, semua kawan saya ada kuliah siang itu, terpaksa saya tarik gas seorang diri. 

Saya berangkat ke lokasi es krim Osiris tanpa berbekal alamat. Saya tidak tahu dimana lokasi persis es krim itu berada. Saya hanya ingat dari sebuah surat kabar, es krim tersebut terletak di KM 20 jalan Parangtritis. Saya menyusuri jalan parangtritis, setibanya di KM 20, di kanan jalan terdapat penunjuk arah letak warung es krim ini berada. Saya ikuti petunjuknya, hanya dalam hitungan menit saya tiba di lokasi.

Dari luar, dekorasi warung es krim ini tampak sederhana, dengan beberapa meja-kursi yang beratapkan seng dengan hiasan pinggir warna merah muda, membuat warung ini terlihat ngejreng. Terlebih warung ini berlokasi di pinggir jalan sebuah kampung. Warna merah muda yang mendominasi membuat warung ini begitu mencolok sehingga menimbulkan rasa penasaran bagi siapa saja yang melintas di depannya.