Saya bukanlah penikmat es krim yang fanatik. Intensitas makan es krim saya bisa dihitung jari. Jika disuruh membuat daftar makanan favorit, es krim mungkin akan bercokol di urutan ke sembilan setelah tempe mendoan. Namun, posisi itu segera berubah setelah saya mencicipi es krim Osiris, kekuatan rasa yang ditawarkan membuat es krim naik tingkat menempati urutan keempat, satu tingkat di atas mie ayam. Tentu, nasi telor tidak ada yang bisa menggesernya di posisi puncak.
Siang
itu, saya berencana pergi liputan ke sebuah desa di Bantul, tepatnya di dusun Paker,
kelurahan Sidomulyo, kecamatan Bambanglipuro. Berhubung lokasinya lumayan jauh,
saya berusaha mengontak kawan yang sekiranya asyik diajak ngobrol di jalan. Apa
lacur, semua kawan saya ada kuliah siang itu, terpaksa saya tarik gas seorang
diri.
Saya
berangkat ke lokasi es krim Osiris tanpa berbekal alamat. Saya tidak tahu
dimana lokasi persis es krim itu berada. Saya hanya ingat dari sebuah surat
kabar, es krim tersebut terletak di KM 20 jalan Parangtritis. Saya menyusuri
jalan parangtritis, setibanya di KM 20, di kanan jalan terdapat penunjuk arah
letak warung es krim ini berada. Saya ikuti petunjuknya, hanya dalam hitungan
menit saya tiba di lokasi.
Dari
luar, dekorasi warung es krim ini tampak sederhana, dengan beberapa meja-kursi
yang beratapkan seng dengan hiasan pinggir warna merah muda, membuat warung ini
terlihat ngejreng. Terlebih warung
ini berlokasi di pinggir jalan sebuah kampung. Warna merah muda yang
mendominasi membuat warung ini begitu mencolok sehingga menimbulkan rasa
penasaran bagi siapa saja yang melintas di depannya.