Sejak awal menginjakan kaki di kampus 2013 lalu, saya sudah mencium glagat tidak baik dari dunia yang bernama kampus ini. Waktu mengisi formulir pendaftaran petugasnya memandang sinis ke arah saya, sorotan matanya tajam seperti lampu sorot di pasar malam, bahkan mata najwa pun lewat. Dalam hati mungkin dia bergumam "Ini salah satu perbuatan setan". Konon katanya, orang yang over teguh memegang hadis akan berkata seperti itu. Ya, kampus tempat saya belajar saat ini kampus milik yang katanya.ormas islam. Yang dimana katanya ajaran Al-quran dan Sunnah berdiri tegak.
Singkat cerita, setelah mengikuti masa orientasi yang sangat menjemukkan. Kini tibalah pada saat yang berbahagia.
Tuesday, 23 June 2015
Sunday, 21 June 2015
Senja di Siang Hari (Cerpen)
Pasar malam di kampung itu sudah dua minggu beroperasi. Namun tak sekalipun Johar mendatanginya, karena mengurus neneknya yang jatuh sakit. Ajakan dari temanya tiap malam bersiul tapi tak ia hiraukan. Kasih sayang pada neneknya lebih besar dari pada pasar kelap-kelip itu. Kode dari Ranti, perempuan yang beberapa minggu ini ia dekati, untuk berdua ke pasar itu tidak ia balas. Kondisi neneknya yang semakin memburuk membuatnya mengurungkan niat.
Amat besar perhatian Johar pada perempuan senja tersebut. Hampir tiap malam sebelum lelap rasa takut hinggap di pikiranya. Bayangan akan kepergian sang nenek membuat air matanya menetes. Dia tidak bisa membayangkan perempuan yang tinggal bersamanya selama tujuh belas tah
NKK/BKK ala UAD
Saya terkejut ketika seorang teman menyodorkan Surat Pernyataan yang harus diisi oleh mahasiswa baru Universitas Ahmad Dahlan. Di dalam surat tersebut ada lima butir aturan yang harus dipatuhi oleh mahasiswa baru. Butir yang membuat saya terkejut adalah butir no 5, yang bunyinya seperti ini: Tidak akan mangadakan/menganjurkan/menghasut yang bersifat demonstratif dengan mengganggu ketenangan dan keamanan kampus Universitas Ahmad Dahlan dalam arti luas. Surat Pernyataan tersebut harus dibubuhkan tanda tangan dan ditempeli matrai.
Sekilas aturan tersebut nampak baik-baik saja, karena kata-kata yang digunakan bersifat normatif. Tapi setelah melihat, meraba dan menerawang kalimat tersebut saya teringat
Sekilas aturan tersebut nampak baik-baik saja, karena kata-kata yang digunakan bersifat normatif. Tapi setelah melihat, meraba dan menerawang kalimat tersebut saya teringat
Thursday, 21 May 2015
Pemilwa, Padamu Jua !
Hajat demokrasi tahunan akan dilaksanakan kurang dari dua minggu lagi. Namun belum terdengar hingar bingar kegaduhan politik. Sejauh ini yang masif terlihat hanyalah pamflet informasi seputar pemilwa dari Komisi Pemilihan Umun Mahsiswa (KPUM). Belum ada beredar isu atau desas-desus di kalangan mahasiswa mengenai program partai mahasiswa dan siapa calon yang akan mereka usung. Kehidupan kampus masih berjalan seperti sedia kala, normatif. Suasana kampus yang adem-ayem menjelang pemilwa ini patut kita kritisi. Jangan sampai pengalaman pemilwa tahun lalu yang berujung aklamasi terulang kembali. Semangat demokrasi bisa tercermin tidak hanya dari kesiapan pelaksaan pemilwa, melainkan semangat dari partai mahasiswa dalam mensosialisasikan program yang mereka tawarkan. Di samping itu pastisipasi aktif dari mahasiswa sebagai konstituen juga menjadi hal wajib.
Sunday, 19 April 2015
Pemilwa dan Mandulnya Gerakan Mahasiswa
Proses demokrasi memang sudah harus ditanamkan sedini mungkin pada generasi muda, hal ini bertujuan untuk membentuk generasi yang jujur, adil dan demokratis. Sejauh ini demokrasi dipercaya sebagai sebuah sistem pemerintahan yang adil, karena menganut asas dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sehingga sistem ini sangat cocok diterapkan dalam pemerintahan Negara dan juga mahasiswa, karena pemerintahan mahasiswa tak ubahnya Indonesia dalam lingkup yang lebih kecil. Kampus merupakan miniatur negara yang menjadi laboratorium demokrasi dan diharapkan menghasilkan lulusan yang bermanfaat dan berbakti pada negara
Friday, 3 April 2015
Humorisasi Politik
Sudah saatnya politik tidak melulu
dipandang sebagai dunia yang ngeri, angker dan penuh intrik. Stigma tersebut
harus didekontruksi menjadi sesuatu yang unyu, imut, lucu dan menyegarkan.
Selama ini pandangan kita terjebak pada pandangan bahwa politik sebagai
panglima untuk meraih kekuasaan, dan jika menyinggung kekuasaan yang terlintas
di benak kita cenderung upaya pemaksaan dan usaha untuk saling mempengauhi.
Politik selama ini dicurigai sebagai sektor yang kotor, semua orang yang terlibat
di dalamnya tidak baik dan destruktif. Tidak salah jika streotip seperti itu
muncul, karena memang ulah pemainya yang bermain kotor. Hampir tidak ada
hiburan yang menggelitik yang muncul dalam sector ini, rakyat hanya
dipertontonkan
Thursday, 2 April 2015
Politik Cari Muka
Kata mencari
selalu identik dengan usaha menemukan barang yang hilang atau menggapai apa
yang dicita-citakan. Sekarang ini Mencari tidak tidak bisa diartikan secara
tekstual, yakni hanya untuk menemukan barang yang hilang, tapi kata mencari
dalam tulisan ini harus dimaknai dengan suatu usaha mencapai keinginan dengan
membuat citra yang berlebihan yang tidak sesuai dengan kondisi asli: Cari Muka.
Frasa Cari
Muka sama halnya dengan kata Mencari yang tidak bisa difenisikan secara mentah,
karena akan terkesan dangkal nalar kita jika mendefinisika secara mentah. Cari
Muka selama ini berkonotasi dengan hal-hal yang bersifat negatif yang penuh
dengan intrik kepentingan, baik individu ataupun kelompok.
Dalam
tulisan ini coba kita bandingkan dua kata yang menjadi entitas judul
Subscribe to:
Posts (Atom)