Thursday, 2 April 2015

Politik Cari Muka


            Kata mencari selalu identik dengan usaha menemukan barang yang hilang atau menggapai apa yang dicita-citakan. Sekarang ini Mencari tidak tidak bisa diartikan secara tekstual, yakni hanya untuk menemukan barang yang hilang, tapi kata mencari dalam tulisan ini harus dimaknai dengan suatu usaha mencapai keinginan dengan membuat citra yang berlebihan yang tidak sesuai dengan kondisi asli: Cari Muka. 

            Frasa Cari Muka sama halnya dengan kata Mencari yang tidak bisa difenisikan secara mentah, karena akan terkesan dangkal nalar kita jika mendefinisika secara mentah. Cari Muka selama ini berkonotasi dengan hal-hal yang bersifat negatif yang penuh dengan intrik kepentingan, baik individu ataupun kelompok. 

            Dalam tulisan ini coba kita bandingkan dua kata yang menjadi entitas judul

Pukul Dua Dini Hari



Kukkuruyuuukk…. Kukkuruyuuukk
                Tepat pukul 02.00 Marlam bangun dari tidurnya lalu bergegas menuju pasar membawa sayuran dan barang dagangan  yang telah ia persiapkan sebelum tidur tadi. Diayunya pedal sepeda warisan ayahnya enam tahun lalu. Seperti biasa, satu kilometer sebelum sampai pasar ia mampir ke rumah Banun untuk berangkat bersama. Banun orangnya memang sulit bangun, harus ditarik tarik terlebih dahulu baru sadar.  Sudah delapan tahun ia berteman dengan Banun dan rutin berjualan di pasar bersama. Sesampainya di pasar mereka menuju ke lapak masing masing untuk menjajakan barang dagangan. Pada pukul 01.00 pasar itu memang sudah ramai dikerumuni pembeli, maka pasar itu dinamakan pasar Dendeng, pasar yang bukan di

Wednesday, 1 April 2015

Surat untuk Mahasiswa


Semakin hari kehidupan mahasiswa semakin kosong, tidak ada hal lain yang membuat hiudp mereka menjadi berarti. Kuliah- pulang, kuliah- nongkrong adalah rutinitas sehari hari. Gaya hidup menjadi sebuah kebanggaan yang selalu ditonjolkan, padahal tidak bermakna apa apa. Penampilan harus terlihat sempurna dengan segala oranamen yang menempel, sedangkan penampilan otak adalah hal yang kesekian. Individualisme dan apatisme dalam bermasyarakat adalah konsekuensi logis dari sikap tersebut. Mengutamakan diri sendiri merupakan hal wajib untuk

Wednesday, 4 March 2015

Wajah Mahasiswa Kini

  Kali ini saya tertarik untuk menulis tentang mahasiswa. Baik dari segi kehidupan, kegiatan dan hal hal yang dilakukanya. 
Idiom yang sering terucap ketika membahas mahasiswa adalah mahasiswa sebagai agen perubahan, kontrol sosial, memiliki tanggung jawab terhadap pembangunan masyarakat dan istilah istilah yang terkesan heroik lainya. Tidak salah memang ketika memberikan cap tersebut kepada mahasiswa, karena jika melihat sejarah mahasiswa memberikan pengaruh terhadap arah negara dan turut andil dalam memberikan kebijakan dan turut serta dalam menamgbil keputusa

Sunday, 1 March 2015

Kumpulan Puisi karya Bintang W Putra

Kapital

Menjalar ke akar akar kehidupan
Menjerat yang tak berkoar
Menjunjung pemberi asa

Akarmu kini sudah menjalar
Laksana matahari yang menembus setiap celah
Tiada ampun tiada dosa

Kubangan lumpur hitam
Nuansa putih,  bersih
Seolah tak merayu
Namun hati terayu

Aku patenkan diri
Menolak setiap gombalan
Memasung diri mendekatmu
Aku tidak sudi!
KAPITALISME.

Independensi Kurator dalam Lomba Sastra

Melalui tulisan ini saya berniat memaparkan pandangan serta kritik saya akan apa yang disampaikan S Prsetyo Utomo, cerpenis nasional. dalam diskusi dan lunching kumpulan puisi Rodin memahat Le Panseur pada tanggal 28 Januari yang diselenggarakan di Semarang. Pada waktu itu salah satu pembicara Saroni Asikin tidak bisa hadir dalam diskusi tersebut. 

Jalanya diskusi dalam forum tersebut dipantik oleh pertanyaan salah satu peserta lomba yang berasal dari madura. Ia melontarkan pertanyaan mengenai independen

Soekarno VS Soeharto dalam Sajak


Sajak Kurniaji Satoto yang akrab dibully Sitok, ini menurut saya adalah sajak yang mencoba mengajak kita untuk merenungi dan mengingat kembali sejarah kelam masa lalu bangsa ini. Yang dimana sejarah merupakan bukti kongkrit suatu peradaban manusia. Denganya kelompok manusia tersebut diakui keberadaanya dan memiliki identitas (Bintang:2015).
Dalam sajaknya yang berjudul Keramik,  Sitok menguraikan kondisi sosial yang berbeda dalam masa pemerintahan yang berbeda (Soekarno dan Soeharto).  Kondisi sosial era soekarno dihadirkan Sitok dalam penggalan sajaknya berikut i