Friday, 7 December 2018

Karena Tempat Tidur Bukan Monopoli Kos-Kosan

Cara nyaman tidur di warung kopi

Seorang kawan satu organisasi mengirim foto di grup alumni. Dalam hitungan detik foto itu menggiring memori saya menuju masa tiga tahun silam. Masa dimana tempat tidur bukan hanya monopoli kos-kosan. Di foto itu terdapat seorang mahasiswa gondrong berbaring di pojok warung kopi sambil mengenakan helm dan kacamata. Yup, manusia dalam foto itu adalah saya.

Di rentang tahun 2015-2016, warung kopi adalah kos kedua saya. Di tempat ini, segala aktifitas domestik saya terpenuhi. Mulai dari mandi, berak, makan, minum bahkan tidur. Maka tidaklah heran jika hampir semua karyawan dan pelanggan warung kopi mengenali saya. Para karyawan juga sudah hafal dengan kebiasaan saya. Jika jam menunjukkan warung harus tutup dan saya masih bertahan di situ, itu berarti saya akan bermalam. Lampu-lampu dipadamkan. Tinggal saya seorang diri terbaring beralaskan tas berisi buku-buku.

Monday, 3 December 2018

Disabilitas dan Jokowi

Di postingan sebelumnya saya berjanji akan membuat catatan lanjutan dari perayaan Hari Disabilitas Internasional 2018. So, inilah lanjutannya. 

Kegiatan yang berlangsung di parkiran Summarecon Mall Bekasi berjalan selama dua hari. Hari pertama diisi dengan pemukulan gong oleh Menteri Sosial, Agung Gumiwang Kartasasmita, sebagai bentuk simbolis pembukaan acara. Pasca pembukaan acara, Menteri beserta jajarannya mengelilingi stand yang tersedia. Kalau tidak salah total stand sebanyak 60. Stand-stand tersebut diisi oleh organisasi disabilitas, LSM, dan lembaga pemerintah. Komoditas yang dipamerkan tidak jauh dari disabilitas. Mulai dari makanan yang dibuat oleh penyandang disabilitas, aksesoris, busana, alat bantu, peta braile hingga Alquran braile.

Sunday, 2 December 2018

Selamat Jalan Bapaknya Adit

Kabar duka menyelimuti keluarga besar Jejak Imaji. Siang tadi Adit mengirim kabar lelayu di WA grup, "Kawan-kawan sekalian, mohon doa supaya bapak saya mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Alfatihah."

Pesan singkat tersebut membuat saya dan teman yang lain kaget. Saya tidak menyangka beliau berpulang secepat itu. Padahal minggu lalu saya bertemu dengannya di acara wisuda. Beliau tampak sehat tanpa kurang suatu apapun. Senyumnya merekah sekali menyaksikan anaknya meraih gelar sarjana. 

Rencana Tuhan memang tidak ada yang tahu.

Jogja-Bekasi


Dari sekian banyak moda transportasi, kereta api adalah yang paling saya senangi.

Malam ini kereta Senja Solo Utama mengangkut saya dari Stasiun Tugu Yogyakarta menuju Bekasi. Dilihat dari tiket, perjalanan ini akan meminum waktu delapan jam tiga puluh menit. Ini sama dengan satu hari kerja.

Kereta bergerak ke barat sesuai jadwal: 18.40 WIB. Jadwal keberangkatan sesuai dengan yang tertera di tiket. Tidak seperti pengalaman di tahun-tahun sebelumnya yang biasanya ngaret. Mungkin karena ini kereta kelas eksekutif kali ya. Jadi, tepat waktu adalah koentji. 

Thursday, 15 November 2018

Merayakan HAM di Wonosobo


Awal mula adalah iseng belaka.

Saya mendapati pamflet pendaftaran peserta fellowship Festival HAM 2018 dari rekan kerja. Dia menyodorkan pamflet digital itu dengan semangat. Dia mengajak saya mendaftar dan memenuhi syarat yang tertera. Saya merespon ajakan tersebut biasa saja, bukan karena saya tidak menyukai isu HAM, tapi mengikuti fellowship terlebih festival sudah saya lakukan sejak awal berstatus mahasiswa. Menjelang akhir kelulusan kuliah saya memang sengaja mengurangi kegiatan sejenis itu. Cukuplah waktu empat tahun sebelumnya saya gunakan menjadi aktivis workshop. Haha.

Akan tetapi, seusai makan siang saya melihat kembali pamflet Festival HAM. Jam makan siang kerap membuat saya gabut dan browsing tidak jelas. Daripada geser kursor tidak jelas, mending saya daftar dan mengisi syarat yang diminta, pikirku. Dalam waktu 30 menit, syarat menulis alasan mendaftar yang panjangnya kira-kira 2000 kata tersebut selesai. Saya kirim kemudian selesai. Saya tidak berharap banyak dari tulisan yang saya buat mendadak dan dalam waktu singkat itu. Saya bahkan lupa dengan apa yang saya tulis.

Dua minggu berselang, nomor tidak dikenali masuk ke hape saya. Suara di seberang mengabarkan bahwa saya lolos seleksi dan masuk sebagai peserta fellowship Festival HAM yang berlangsung pada 13-15 November di Wonosobo. Saya heran sambil tersenyum dengan kabar itu. Bingung apakah harus bahagia atau sedih. Tapi karena festival ini berisi banyak diskusi panel dan pleno tentang HAM saya tentu senang. Kapan lagi menghadiri acara keren yang segala akomodasinya ditanggung, batinku. Kabar baik itu saya anggap sebagai rejeki anak soleh. Hehe.

Tuesday, 24 April 2018

Wisuda Segan, Menikah pun Mau


Adit menikah. Kami para pengelola Jejak Kopi dilema. Bingung mau bersikap, antara harus bahagia karena Adit sudah menghabiskan jatah lajangnya atau sedih karena Jejak Kopi kehilangan juru masak. Menentukan sikap di momen seperti ini cukup berat, saya yakin Dilan saja tidak akan kuat. Tapi, sebagai karib yang baik, kami tentu bahagia dan mendukung langkah Adit menikah meski toga belum jadi hal milik. Kami sama sekali tidak mempermasalahkan status mahasiswa Adit. Lagian juga tidak ada hubungan sama sekali antara menikah dan wisuda. Kalau ada mahasiswa yang sudah siap menikah di semester tiga kamu mau apa? Saya juga heran siapa yang pertama kali buat aturan kalau nikah sebelum wisuda itu hal yang ganjil. Lho, kok saya jadi marah?

Saturday, 11 November 2017

Kumis


Saya adalah pria yang tumbuh dengan kumis bagian pinggirnya lebih panjang dari pada bagian tengah. Sekira lima tahun lalu, saat pertama kali menyadari hal ini, saya tidak merasa ganjil sedikitpun. Saya merasa fine-fine saja karena teman seperburjoan juga berkumis. 

Seiring bergulirnya waktu, kumis saya semakin panjang dan lebat. Tapi anehnya yang tumbuh subur hanyalah bagian pinggirnya saja, bagian tengahnya lambat sekali tumbuh, seperti tanaman yang kekurangan sinar matahari. Setelah akumulasi perasaan ganjil ini memuncak, saya putuskan untuk mencari tahu ke sang maha tahu, Google. Namun, saya tidak menemukan jawaban yang memuaskan libido.

Saking tidak betahnya berkawan dengan model kumis seperti ini, saya pernah melakukan eksperimen rekayasa genetik. Saya memotong kedua bagian pinggir kumis sampai gundul sehingga yang tersisa hanya bagian tengahnya saja. Harapannya supaya bagian pinggir bisa tumbuh bareng dan memiliki panjang yang sama dengan bagian tengah. Namun, upaya ini hanyalah kesia-siaan belaka. Meski kecolongan start, kumis pinggir tetap saja bisa menyalip, bahkan semakin jauh di depan. Asu.